Pendidikan Ukuran Keempat
Pendidikan ukuran keempat ini termuat dalam suatu
semboyan: "Siapa mencari enak tanpa mengenakkan tetangganya, sama
dengan membuat tali untuk menjerat lehernya sendiri." Ungkapan tersebut berarti
"tak ada keenakan kecuali mengenakkan orang lain". Jadi rasa enak itu
hanya dapat diperoleh dengan jalan mengenakkan orang lain, lain daripada itu
tak ada.
Enak tanpa mengenakkan orang lain, adalah sebagai tali
yang menjerat lehernya sendiri. Karena rasa enak yang diperoleh dengan tidak
mengenakkan orang lain, tercampur rasa tidak enak yang lebih berat bobotnya,
maka rasa itu tidaklah murni. Misalnya ketika seseorang menikmati makanan,
karena makanannya serba enak tidak seperti biasanya, maka tentu timbul rasa
tidak enak: "Wah, bagaimana supaya dapat makan makanan yang serba enak
serupa ini lagi. Bila keinginannya terlaksana, tentu muncul rasa tidak enak
lagi: "Wah, bagaimana supaya setiap hari dapat makan serba enak serupa
ini?" demikian seterusnya.
Perbuatan mengenakkan orang lain sering bersifat tidak
mengenakkan orang lain. Umpama seorang suami membelikan pakaian untuk istrinya
dengan maksud "supaya istrinya tidak cerewet". Perbuatan itu
sebenarnya bukan mengenakkan istrinya, tetapi menyuap istrinya dengan pakaian.
Oleh karena itu rasa enak hanya dapat diperoleh dengan
jalan mengenakkan orang lain. Karena dalam suatu hubungan orang dengan orang
lain, kedua belah pihak bersama merasa enak atau tidak enak. Jadi orang lain
itu tidak terpisah sebagai "kamu".
Orang menganggap orang lain dalam hubungan sebagai
"kamu", karena mengira bahwa enak dan tidak enaknya berat sebelah
atau tidak berbarengan. Anggapan di atas disebabkan campurnya peristiwa dan
perasaan. Bila peristiwa dan perasaan terpisah, dapatlah dimengerti bahwa rasa
enak dan tidak enak timbul bersamaan dengan pihak yang dihubungi.
Umpama jika orang melihat orang lain terbentur
kepalanya hingga benjol maka ia tentu merasa tidak enak walaupun tidak
mengalami benjol. Jadi dalam peristiwa benturan di atas, yang bersamaan ialah
rasanya tidak enak, sedang yang berbeda ialah benjolannya di kepala.
Semboyan "enak hanyalah mengenakkan orang
lain" didasarkan atas anggapan bahwa orang lain bukanlah kamu. Sikap jiwa
yang menganggap orang lain bukan kamu, mewajarkan tindakannya mengenakkan orang
lain, dan memungkinkannya melihat rasa enak atau tidak enak orang lain.
Orang melihat rasa orang lain; pertama-tama tentu saja
di dalam hubungannya terdekat, yakni suami/istrinya. Dan tatkala mulai melihat
rasa pasangannya, timbullah rasa takut, karena bertentangan dengan anggapannya.
Ternyata ia menyusahkan pasangannya. Si suami menyusahkan si istri, si istri
menyusahkan si suami.
Untuk dapat merasa bahwa dirinya menyusahkan
pasangannya, adalah lebih mudah daripada untuk mengerti. Adapun untuk
mengertinya sebagai berikut. Orang menderita susah disebabkan oleh cacat
pasangannya. Cacat-cacat itu ada tiga macam, yaitu cacat badan, hati dan
pikiran. Jadi dengan demikian cacat diri sendirilah yang menyusahkan
pasangannya. Apabila ia merasa tidak punya cacat, perasaan demikian itulah
sebagai cacatnya. Cacat ini adalah cacat pikiran yang besar, yaitu kebodohan,
karena ia tidak mengerti cacatnya sendiri.
Di sini akan diberi contoh bagaimana orang menyusahkan
pasangannya yang disebabkan cacatnya. Misalkan seorang laki-laki berusia empat
puluh tahun memperistri seorang perempuan muda berusia dua puluh tahun. Ia
menyusahkan istrinya itu dengan usianya yang empat puluh tahun itu.
Mengetahui diri sendiri yang menyusahkan pasangannya,
orang sering merasa takut. Takut ini mendorongnya mencari dalih sebagai
landasan rasa, seolah-olah ia membahagiakan pasangannya. "Suami/istriku
sekarang lebih senang daripada di waktu dulu. Dulu bila ia ingin ganti baju,
tidak mudah diperolehnya. Tetapi kini ia tinggal pakai saja, sebab saya sudah
membelikannya." Demikian alasan orang takut menyadari bahwa dirinya
menyusahkan pasangannya.
Orang dengan mudah dapat berganti pakaian ialah
keenakan dalam penghidupan, tetapi bukanlah dalam perkawinan. Padahal kesusahan
si istri dalam perkawinan, disebabkan bersuami dengan orang berusia empat puluh
tahun. Membelikan pakaian tidak mengurangi usia. Jadi bidang penghidupan dan
perkawinan itu terpisah. Bila diputar balik kedudukannya akan lebih jelas.
Umpama laki-laki berusia empat puluh tahun itu dipersuamikan oleh seorang
wanita berusia enam puluh tahun, dan dibelikannya pakaian. Sudah barang tentu
laki-laki itu akan merasa tidak enak.
Walaupun orang menyusahkan dan disusahkan oleh
pasangannya, namun perkawinannya sering berlangsung sampai mereka tua. Itu
karena masing-masing puas dalam saling menyusahkan. Kepuasan semacam itu ialah
puas dalam perhitungan untung-rugi, tetapi bukan dalam perkawinan. Hal tersebut
dapat dilihat pada waktu mereka bertengkar, kedua pihak saling
mengungkit-ungkit cacat masing-masing. Masing-masing menaikkan nilainya sendiri
sembari menurunkan nilai lawannya.
Maka perkawinan dengan landasan untung-rugi, tetap
tidak memuaskan. Karena dalam perkawinan nilai setiap orang tidak tetap dan
berubah-ubah. Maka kepuasan dalam perhitungan untung-rugi tercampur
kekhawatiran. Misalnya seorang laki-laki tua, berpangkat tinggi, beristrikan
seorang wanita muda berpangkat rendah. Suami-istri itu kedua-duanya sama-sama
merasa khawatir. Si suami khawatir turun pangkatnya, si istri pun khawatir
turun kemudaannya. Maka masing-masing berusaha agar tidak menurun nilainya.
Perkawinan dengan dasar untung-rugi, menimbulkan rasa dijerumuskan
atau menjerumuskan. Misalnya orang mempunyai cacat yang telah diakuinya, bila
ia memperoleh jodoh, ia merasa bahwa suami/istrinya terjerumus. Sedang
suami/istrinya pun sering menjerumuskannya. Maka dalam perkawinan di atas
masing-masing pihak saling menjerumuskan.
Setelah orang merasa bahwa dengan cacatnya ia
menyusahkan pasangannya, timbullah hasrat minta maaf. Hasrat minta maaf ini
mengubah pandangan terhadap pasangannya dan inilah awal rasa rukun dan damai.
Sebelum rasa minta maaf timbul, maka laki-laki berusia
empat puluh tahun dalam contoh di atas, bila didamprat oleh istrinya segera
membalas mendamprat, sehingga terjadi saling damprat. Tetapi setelah ada rasa
minta maaf dan berubah pandangan, maka ia menganggap dampratan istrinya itu benar:
"Istriku mendamprat aku itu benar, karena ia kususahkan dengan usiaku yang
empat puluh tahun ini." Rasa demikian itu ialah lenyapnya rasa
"kamu". Jadi hilangnya rasa "kamu" karena mengerti
kesalahan sendiri ketika berhubungan dengan orang lain, dan merasa tidak enak.
Bila rasa menyusahkan istrinya itu dipelajari,
laki-laki tua itu dapat mengetahui bahwa istrinya berhati sabar. "Istriku
ini sabar sekali. Ia seorang wanita baru berusia dua puluh tahun, memperoleh
suami tua empat puluh tahun, semacam aku ini. Kesalahanku demikian besar,
tetapi ia mendampratku hanya ringan saja. Andaikata aku yang mempunyai istri
berusia enam puluh tahun, dampratanku pasti tidak seringan ini." Padahal
kesabaran ialah rasa luhur dan indah. Maka keinsafan bahwa dirinya menyusahkan
orang lain dalam berhubungan, membuatnya melihat keindahan orang lain tersebut.
Jadi melihat rasa istrinya itu bersamaan dengan
melihat cacat diri sendiri yang menyusahkan istrinya. Pokok rasa menyusahkan di
atas itu juga akan lahir dalam rasa perincian. Pokok rasa menyusahkan ini
menjadi bumbu dalam rasa menyusahkan secara perincian. Yaitu yang dapat
mengobarkan perselisihan hebat antara suami-istri yang disebabkan karena
hal-hal sepele saja, sehingga berakhir dengan perceraian, walaupun kemudian
rujuk kembali.
Bila melihat cacat diri sendiri yang menyusahkan
pasangannya dalam hal-hal perincian, orang akan mengerti kesalahan diri sendiri
manakala merasa tidak enak dalam hubungan dengan pasangannya. Kemudian mencari
kesalahan diri sendiri itu sampai menemukan. Demikian perkembangan ukuran
keempat yang membuat orang senantiasa mengetahui kesalahan diri sendiri dalam
hubungan yang tidak enak dengan pasangannya.
Jadi ukuran keempat ini kecuali memungkinkan orang
merasakan rasa orang lain, pun memungkinkan orang mengetahui cacat diri sendiri
yang pokok dan yang perincian. Melihat demikian itu disertai melihat gambar
(pola) manusia tanpa cacat (sempurna). Jadi ukuran keempat membuat orang dalam
berhubungan dengan orang lain, selalu menggembalakan cacat diri sendiri dengan
pedoman gambar manusia sempurna.
Setelah pengetahuan rasa suami/istri semakin
berkembang, orang akan mengetahui rasa anak-anaknya. Ternyata anaknya pun
termasuk orang yang disusahkan oleh cacatnya. Jadi orang itu menyusahkan
anaknya dikarenakan cacatnya. Sebagai anak ia mesti merasa susah (celaka)
karena cacat orang tuanya. Misalnya merosotnya nilai anak itu setelah menjadi
jejaka atau gadis, dapat disebabkan karena orang tuanya.
Dalam masyarakat ada pendapat yang merintangi orang
melihat bahwa dirinya menyusahkan anaknya. Pendapat itu sebagai berikut:
"Anak itu amat banyak berutang budi kepada orang tuanya". Betapa
banyaknya utang tersebut itu digambarkan dengan ungkapan, bahwa jumlah bulu
badan si anak, bila diwujudkan uang mas belum cukup untuk membayar utang itu.
Pendapat di atas sering dipergunakan orang tua untuk
menekan anaknya. Ini berarti tambah hebat orang tua itu menyusahkan anaknya.
Tekanan-tekanan itu biasanya berupa minta dihormati, disanjung dan diberi
apa-apa, dengan semboyan "mikul dhuwur mendhem
jero" (memikul
tinggi, menanam dalam - orang tua yang mati). Rasa inilah yang sering
menyebabkan pertengkaran antara orang tua dan anak.
Setelah sadar bahwa ia menyusahkan anaknya, maka pasti
tumbuh dalam diri orang tua, rasa minta maaf kepada anaknya. Ini berarti bahwa
pandangannya terhadap anaknya berubah. Bila anaknya tidak taat kepadanya, maka
itu dianggapnya benar: "Anakku nakal itu benar, karena telah kususahkan
dengan cacatku." Jadi rasa minta maaf itu datangnya serentak dengan melihat
kesalahan dan cacat diri sendiri.
Setelah mengetahui rasa anaknya, maka orang dapat
menghayati rasa tetangganya. Ternyata tetangganya adalah orang yang disusahkan
oleh cacatnya. Jadi orang itu menyusahkan tetangganya karena cacatnya.
Cacat-cacat yang kasar lebih mudah diketahui, seperti tabiat suka mengambil
barang orang lain. Tetapi cacat-cacat yang halus lebih sukar diketahui. Maka
biasanya melihat cacat sendiri dimulai dari cacat-cacat yang kasar dulu.
Perintang yang menghalangi orang untuk melihat rasa
tetangganya ialah kepentingan diri sendiri. Kepentingan diri sendiri ini sering
digunakan untuk menilai jahat atau baiknya tetangga. Kalau perbuatan tetangga
itu sesuai dengan kehendaknya, maka dianggapnya baik dan kalau tidak,
dianggapnya jahat.
Bila dalam hubungan dengan tetangga, kepentingannya
itu lenyap, yang berarti bahwa kepentingan itu bukanlah "aku", maka
orang dapat melihat rasa tetangga. Lenyapnya kepentingan sendiri memungkinkan
ia melihat bahwa tetangganya itu benar, sedang dirinya yang salah. Jadi
menghayati rasa tetangga berarti lenyapnya kepentingan diri sendiri dan
mengetahui kesalahan dan cacat diri sendiri.
Melihat rasa tetangga ini disertai rasa minta maaf
pada tetangga. Orang akan beranggapan bahwa tetangganya benar dan diri sendiri salah.
Inilah rasa bersatu dengan tetangga, yang berarti tetangga itu bukanlah
"kamu".
Bila sudah dapat bersatu dengan tetangga, maka orang
akan dapat bersatu dengan siapa pun yang dihubunginya. Jiwa seperti itu dapat
dikatakan sebagai jiwa bersatu (jiwa manunggal). Jadi jiwa manunggal ialah rasa
"bukan kamu" terhadap siapa yang dihadapinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar