ILMU JIWA KRAMADANGSA
Hal. 2/4
BAGIAN II
Sebagai barang hidup, catatan-catatan itu ingin hidup subur, oleh karena
jika diganggu, marah, jika dibantu, senang. Bagi binatang, jika diganggu ia
akan menggigit, dan jika disayang, bergoyang-goyanglah ekornya.
Dalam kelompok catatan-catatan itu, yang kesatu ialah catatan "harta
benda", yang berisi perumahan, tanah, hewan peliharaan, harta
perhiasan mas intan dan sebagainya. Sifat catatan harta benda, sebagai
"harta bendaku", ini tetap, yakni kalau diambil, dikurangi, akan
marah, tetapi kalau dibantu, ditambah, akan tertawa girang.
Kelompok catatan kedua yaitu "kehormatan", berisi
cara-cara memberi hormat seperti, bersalaman, berjongkok, menyembah,
mengangguk, membongkok badan, dan sebagainya. Sifat catatan ini pun tetap, jika
dihormat orang akan tertawa senang, tetapi jika tidak dihormat akan marah.
Kelompok catatan ketiga yaitu "kekuasaan", berisi hak atas
segala hal atau milik yang dikuasainya; misalkan rumah yang dipagari, ini
berarti segala yang ada di dalam lingkungan pagar ini, "aku"lah yang
berkuasa. Sehingga jika orang-orang atau benda-benda di daiam lingkungan
kekuasaannya itu diganggu, marahlah ia, tetapi jika dibantu, girang dan
tertawalah ia. Misalnya ada orang masuk rumahnya tanpa permisi, tentu ia lantas
marah, karena merasa dilanggar kekuasaannya.
Kelompok catatan keempat yaitu "keluarga", yang berisi
catatan anakku, isteri/suamiku, keponakanku dan sebagainya. Sifatnya pun tetap
sama, bila diganggu marah, bila dibantu ketawa.
Kelompok catatan kelima "golongan". Cara orang masuk dalam
suatu golongan ada dua jalan, yang satu dengan sengaja, dan yang kedua tidak
dengan sengaja. Misalnya orang melarat, ia tidak sengaja masuk golongan
melarat, tetapi masyarakat atau orang lain mengatakannya, bahwa ia tergolong
melarat. Demikian pula golongan kaya, priyayi, tani dan sebagainya, masuk ke
dalam golongannya secara tidak sengaja. Tetapi orang masuk suatu golongan agama
atau partai, kebanyakan dengan kemauannya sendiri atau dengan sengaja. Catatan
golongan ini pun jika diganggu marah, dan jika dibantu ketawa.
Misalnya golongan saya "golongan kawruh jiwa" atau "kawruh
rasa" ini. Kalau ada yang mencela: "Lihatlah golongan kawruh
jiwa/rasa itu, kerjanya tidak lain hanya ngomong tentang rasa saja. Bila
perutnya lapar akan makan rasa pula." Diejek demikian, saya pun marah.
Tetapi bila dipuji orang: "Lihatlah, golongan kawruh jiwa/rasa ini, sudah
mencapai ketenteraman, tidak mudah marah." Maka ketawalah saya karena
dipuji.
Kelompok catatan keenam "bangsa". Pada umumnya, orang
masuk salah satu golongan dengan tidak sengaja. Misalkan saya ini, tahu-tahu
sudah menjadi bangsa Indonesia. Sifat catatan bangsa ini pun tetap, jika
dicela, marah, dan jika dipuji, ketawa. Andaikata dicela: "Wah, kesaktian
bangsa Indonesia hanya sebagai kelinci, yakni terus beranak
banyak-banyak," saya segera marah. Tetapi jika dipuji: "Bangsa
Indonesia itu halus budi bahasanya" saya segera ketawa.
Kelompok catatan ke tujuh "jenis". Pada waktu kita bertemu
dengan seseorang, walaupun berlainan agama, bangsa dan golongan, tetapi merasa
satu jenis, yaitu jenis manusia. Sifat catatan ini pun tetap, jika sesama
jenisnya diganggu, marah dan jika dibantu, ketawa. Umpama ada seorang sedang
beristirahat di atas pohon dalam hutan, sekonyong-konyong dilihatnya seorang
lain dikejar oleh seekor babi hutan. Orang itu marah dan ingin membunuh
binatang tersebut, karena orang yang dikejar binatang itu, adalah sejenis
dengan dirinya, walaupun bukan sebangsa dan sekeluarga.
Kelompok catatan kedelapan "kepandaian", berisi kepandaian
menari, pencak, membuat kecap dan kepandaian-kepandaian lainnya. Sifatnya pun
tetap, jika dicela, marah dan jika dipuji, ketawa.
Kelompok catatan kesembilan "kebatinan", isinya
bermacam-macam dan berbeda-beda pada setiap orang. Bahkan "kawruh jiwa"
pun ada yang menamakannya kebatinan.
Kelompok catatan kesepuluh "ilmu pengetahuan", berisi
pengetahuan membuat barang-barang seperti tikar, bom-atom dan lain-lain.
Sifatnya tetap sama seperti diterangkan di atas.
Terakhir, kelompok catatan kesebelas "rasa hidup", berisi
berbagai-bagai kenangan dan pengalaman yang ditimbulkan oleh rasa hidup. Jadi
yang mendorong gerakan manusia, selain catatan-catatan tersebut di atas, ada
lagi yaitu rasa hidup. Malahan rasa hidup ini yang mendorong gerakan barang
hidup. Barang-barang hidup itu berwujud tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia.
Mereka bergerak sendiri, tak digerakkan oleh barang lain. Barang yang
digerakkan oleh barang lain, ialah barang tidak hidup.
Barang hidup bergerak dengan maksud untuk mencukupi dua macam kebutuhan
hidupnya. Yaitu untuk melangsungkan hidup raga dan jenisnya. Hal ini adalah
hukum alam yang tidak dapat disangkal. Misalnya pohon kelapa, bergerak untuk
melangsungkan hidupnya. Setelah dewasa lalu berbunga dan berbuah. Buah itu
setelah masak, jatuh ke tanah, kemudian tumbuh sebagai pohon kelapa muda.
Dengan demikian bila pohon kelapa yang tua mati, dunia tidak kehabisan jenis
pohon kelapa.
Demikian pula manusia yang bergerak, selain didorong oleh catatan, juga
didorong oleh rasa hidup untuk melangsungkan hidup raga dan jenisnya.
Syarat-syarat untuk melangsungkan hidup raganya ialah makan, pakaian dan tempat
tinggal. Lain dari tiga hal itu, bukanlah syarat hidup raga. Sebab badan
manusia kalah kuat dibandingkan dengan badan binatang.
Bagi hewan, untuk melangsungkan raganya hanya satu cara yaitu makan.
Misalnya kambing, pada saat ia lahir, badannya dapat tahan panas, angin, hujan,
tetapi manusia tidak tahan panas atau dingin, hingga perlu memakai pakaian.
Sekalipun perutnya kenyang, kalau tidak berpakaian, lama kelamaan ia akan
kurus, sakit lalu mati.
Kebutuhan ketiga ialah rumah tinggal. Sebab raga orang, setelah lelah
bergerak, butuh istirahat atau tidur. Karena sekalipun kenyang dan berpakaian,
tetapi kalau tidak dapat istirahat, ia akan kurus, sakit lalu mati. Dalam hal
tidur, manusia pun kalah dengan burung. Burung jika mengantuk bisa tidur di
cabang-cabang pohon, walaupun hujan turun dan petir sambar-menyambar. Tetapi
manusia bila ingin tidur masih memerlukan tempat yang tidak kepanasan, kehujanan,
keanginan, yaitu berupa rumah.
Barang-barang lain yang tidak merupakan syarat hidup, bukanlah kebutuhan
hidup. Misalnya barang semacam gamelan, bukanlah kebutuhan hidup, sebab tanpa
gamelan orang tetap hidup. Tetapi orang sering salah anggapan, bahwa barang-barang
yang bukan kebutuhan hidup dianggapnya sebagai kebutuhan hidup. Dan ini
menimbulkan kesusahan dalam mempergunakan. Misalnya seorang laki-laki
menganggap sepeda motor sebagai kebutuhan hidup, dan seorang perempuan
menganggap perhiasan kalung dan giwang sebagai kebutuhan hidup. Bila mereka
terpaksa sampai menjual barang-barang itu, malulah mereka, sehingga tidak
berani ke luar rumah. Tetapi jika mereka dapat menganggap barang-barangnya itu
sebagai barang kelebihan, sehingga bila terpaksa dijual, tidak menimbulkan
malu.
Gerak manusia untuk melangsungkan jenisnya pun tidak dapat dihindarkan.
Sama halnya dengan kebutuhan makan untuk melangsungkan raganya. Saudara-saudara
dipersilakan mengingat-ingat pengalaman sewaktu kanak-kanak. Anak lelaki suka main
gundu, gasing, sedangkan anak perempuan suka msin gateng (permainan anak Jawa,
menyebar dan meraup biji-biji sawo), main manik-manik dan sebagainya. Kemudian
bila sudah dewasa, berganti permainannya. Anak lelaki itu mengganti gundu atau
gasingnya yang biasa dengan yang bisa tertawa. Dan anak perempuan yang sudah
menjadi remaja, mengganti gateng dan manik-manik yang biasa dengan yang dapat
tersenyum. Masa perubahan tadi dapat dinamakan masa birahi. Dari manakah
datangnya rasa birahi itu? Tidak dapat diketahui, kecuali tahu-tahu sudah ada,
tidak dapat ditolak. Bahkan pada diri saya yang sudah tua, ompong,
kadang-kadang masih timbul birahi. Maka para jejaka dan gadis yang sama birahi,
kejar-mengejar untuk mencukupi kebutuhannya, yang tidak dapat dicegah. Kalaupun
orang berusaha mencegahnya, ini sama dengan mencegah orang lapar tidak boleh
makan.
Jadi yang mendorong gerak itu ialah rasa-hidup dan catatan-catatan. Maka
rasa-hidup dan catatan-catatan itu adalah bahan adonan Kramadangsa, atau
diri-sendiri. Jika bahan adonan itu dipisahkan, hilanglah Kramadangsa. Seperti
air teh dalam gelas di depan saya ini. Apabila adonan yang terdiri dari daun
teh, air dan gula dipisahkan, air teh ini tidak ada lagi.
Rasa-hidup dan catatan rasa-hidup itu, mendorong gerak manusia. Misalnya
saudara, biasa setiap pukul tujuh pagi minum kopi, Pada suatu hari saudara lupa
atau tidak sempat melakukan kebiasaan minum kopi itu, sehingga pada waktu pukul
sembilan pagi, kepala merasa pusing. Kemudian ingat bahwa pagi itu belum minum
kopi, lalu bertindak mencari minuman kopi. Tindakan ini terdorong oleh catatan
minum kopi dalam diri-sendiri. Tetapi tatkala pukul dua siang hari, merasa
lapar, ia lalu mencari makanan. Tindakan ini terdorong oleh rasa-hidup. Jadi
dorongan dari rasa-hidup dan dari catatan rasa-hidup, adalah dua hal yang tidak
sama.
Sebagai contoh, orang lapar bertindak mencari makanan, ini terdorong oleh
rasa-hidup. Tetapi ketika melihat tak ada bakmi pada hidangan yang disajikan
isterinya di atas meja, urunglah ia makan. Tindakan ini terdorong oleh catatan
rasa-hidup. Bagi anak kecil yang belum ada catatan bakmi, bila merasa lapar
lalu makan apa saja yang diberikan. Demikian orang ditarik dan didorong oleh
berbagai-bagai catatan yang sering bertentangan, sehingga menimbulkan kepusingan.
Tetapi rasa-hidup yang hanya butuh untuk mencukupi kelangsungan hidupnya,
mendorong orang bila ia lapar, untuk makan makanan apa saja dan makanan itu
tentu terasa lezat.
Kramadangsa sebagai pengikat dan pemilik catatan-catatan, menilai
catatan-catatan itu tidak sama rata. Pada umumnya yang bernilai paling tinggi,
ialah catatan harta benda, kehormatan, kekuasaan (bhs. Jawa: semat, drajat, kramat). Penilaian ketiga macam catatan tersebut oleh masing-masing Kramadangsa,
juga berbeda-beda. Yang satu menilai harta-benda nomor satu, kehormatan nomor
dua, kekuasaan nomor tiga. Yang lain menilai kehormatan nomor satu, kekuasaan
nomor dua, harta-benda nomor tiga. Yang lain lagi mempunyai urutan penilaian
yang lain pula.
Catatan yang dianggap terpenting itu, makin lama mencengkeram Kramadangsa.
Kramadangsa yang dicengkeram oleh salah satu catatan, tindakannya mengabaikan
catatan-catatan lain dan diri-sendiri. Misalkan catatan harta-benda yang
mencengkeram Kramadangsa, setiap tindakannya pasti ditujukan untuk menambah
kekayaannya. Ibaratnya kata sepatah, tindak selangkah, jika tidak menambah
kekayaan, tidak akan dilakukannya. Pernah saya melihat seorang kaya yang
tercengkeram catatan harta-benda, bila makan puas dengan gudangan mentah (campuran sayur mentah dengan sambal kelapa), bila memasak,
mencari sampah tetangganya untuk bahan bakar. Bila nanti mencari menantu,
tujuannya pun untuk menambah kekayaan. Sehingga diterimanya pinangan seorang
laki-laki yang sudah berusia delapan puluh tahun, untuk gadisnya yang baru
berusia enam belas tahun. Bahkan makin hebat cengkeraman catatan tadi, sehingga
menyatukan diri dengan harta-bendanya, "harta-bendaku ialah aku".
Pada waktu ia diserbu penggedor (perampok), dia membela harta-bendanya
mati-matian, sehingga mengorbankan jiwa-raganya.
Peristiwa semacam itu banyak terjadi pada masa geger-perang yang lalu.
Andaikata ia tidak mati, tetapi gagal mempertahankan harta-bendanya hingga
rudin/bangkrut, orang kaya yang tercengkeram catatan harta-benda itu lalu
menjadi malas hidupnya, sebab memikirkan harta-bendanya yang telah amblas.
Rasanya, meskipun aku bekerja seratus tahun lagi, tidak mungkin jumiah
harta-bendaku yang hilang itu kembali. Orang itu takut hidup akan tetapi takut
pula mati. Lama-kelamaan ia malas makan, malas tidur dan malas bernafas,
akhirnya menderita TBC atau sakit jiwa. Menderita TBC itu seolah-olah bunuh
diri secara lamban. Kalau ia menggantung diri atau mencebur diri ke dalam
sumur, maka ia membunuh diri secara cepat.
Karena masing-masing catatan itu minta diperhatikan dan dipentingkan, maka
sering timbul pertengkaran, antara catatan yang satu dengan yang lain, yang
membuat si Kramadangsa sebagai buruhnya, menjadi kebingungan. Misalkan di kala
ia menghadapi anaknya yang menghambur-hamburkan uangnya, maka bingunglah
Kramadangsa, karena yang menghamburkan uangnya ialah "anakku" yang
harus dipelihara, dididik, disenangkan. Di pihak lain, yang dihamburkan ialah
"hartaku" yang harus diamankan dan diperbanyak jumlahnya.
Semakin hebat cengkeraman salah satu catatan, maka kepentingan catatan
lainnya siabaikan, membuat Kramadangsa bertindak tanpa menggunakan pikiran,
sehingga ia bertindak laksana hewan saja. Misalnya seorang laki-laki,
tercengkeram hebat oleh catatan "keluargaku". Suatu ketika ia pulang
ke rumah dan melihat sang isteri berbuat serong dengan laki-laki lain. Tanpa
pikir panjang lagi, dicabut pisau dan dibunuhlah laki-laki yang menggendak
isterinya itu. Kemudian ketika ia meringkuk dalam penjara, sebagai hukuman atas
perbuatannya, catatan-catatan lain mengeroyok dirinya atau Kramadangsanya.
Sebagai majikan, catatan-catatan itu menyesalkan perbuatan buruhnya: "Hai
Kramadangsa, sekarang kamu berada dalam penjara, lalu siapakah yang akan
mengurus sapimu, anak-anakmu? Bahkan bila isterimu bergendak lagi, mana kau tahu?"
Jadi kesimpulannya, dalam diri kita ini terdapat juru catat, yang
menghasilkan berbagai-bagai catatan, yang menggerombol menjadi sebelas
kelompok. Kelompok-kelompok catatan ini melahirkan Kramadangsa, yaitu rasa aku
dengan namanya sendiri. Kramadangsa ini tukang memikir, yang memikirkan
kebutuhan catatan-catatan di atas. Dengan kata lain, Kramadangsa sebagai
seorang buruh dari sebelas majikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar