Latihan
Orang merasakan segala sesuatu menggunakan kacamata
rasa kebalikan, yang terdapat pada dirinya sendiri. Wujud rasa-rasa yang saling
bertentangan adalah seperti suka dan benci, untung dan rugi, dan sebagainya.
Rasa inilah yang merintangi orang sehingga tidak dapat merasakan rasa orang
lain.
Sebagai contoh rasa suka dan benci; misalnya seorang
miskin membenci golongan kaya dan menyukai golongan melarat. Bila berjumpa
dengan orang kaya, rasa bencinya timbul yang terungkap dalam kata-kata
"orang kaya itu selalu mengejek". Orang miskin itu tidak dapat
menghayati rasa orang kaya.
Bila berjumpa dengan orang melarat, rasa suka si
miskin tadi muncul verwujud rasa/kata-kata "orang miskin itu selalu
diejek, maka pantas dikasihani". Orang itu tidak dapat menghayati rasa
orang miskin. Demikian suka dan benci merintangi rasa orang lain.
Contoh mengenai rasa untung dan rugi. Misalnya
seseorang mendambakan kekayaan, bila menghadapi orang atau perkara, ia
bertanya, "Orang atau perkara ini menguntungkan atau merugikan
idam-idamanku." Yang merugikan ditentangnya dan yang menguntungkan
dimufakatinya.
Rasa saling bertentangan ini tetap ada pada manusia
dan merintangi orang menghayati rasa orang lain. Maka usaha menghapuskan
undangan rintangan itu tidak dengan memusnahkan rasa itu. Karena bila orang
berusaha memusnahkannya, hasilnya malah melahirkan saling pertentangan yang
baru. Umpama orang bersamadi dengan tujuan melenyapkan rasa bertentangan itu.
Hasilnya hanyalah kebencian terhadap rasa saling bertentangan dan suka kepada
bayangan lenyapnya rasa itu.
Rasa saling bertentangan itu ialah alat bantu untuk
dapat mengerti rasa orang lain. Tanpa alat bantu berupa rasa berlawanan itu,
orang tidak dapat menghayati rasa orang lain. Contohnya sebagai berikut.
Umpama orang menyebarkan "ilmu bahagia"
(bhs. Jawa: kawruh beja), dan orang yang menanggapi mencemoohkan ajaran itu.
Tentu saja penyebar ilmu itu benci pada orang tersebut. Bila kebencian itu
diteliti dengan rasa merasa-salah, kebencian itu buyar.
Bila kebencian itu buyar, orang akan mengerti bahwa
sesungguhnya ia tidak menyebar "ilmu bahagia", melainkan ingin
menundukkan orang lain. Perkembangannya, orang itu akan mengerti bahwa pihak
lawannya benar, karena orang ditundukkan pasti merasa tersinggung dan
menolaknya dengan cara mencemoohkan "ilmu bahagia" tersebut.
Latihan ini dapat pula dijalankan dalam pekerjaan.
Umpama berdagang: ketika sedang laris orang tidak merasa susah, tetapi di waktu
tidak laku, ia lalu merasa susah.
Bila kesusahan itu diteliti dengan landasan rasa
merasa-salah, dapatlah ditemukan kesalahannya sendiri. Yakni berupa rasa suka
untung dan benci rugi, yang merintangi rasa si pembeli. Bila suka dan bencinya
sendiri diketahui, orang akan mengerti rasa si pembeli yaitu butuh harga murah
dan barang baik. Kemajuannya orang itu ialah mengerti bahwa jika ia tidak dapat
mengadakan harga murah dan barang baik, maka ia tidak sesuai dengan pekerjaan
itu.
Latihan ini dapat pula dijalankan di antara keluarga.
Umpama orang melihat anaknya tidak naik kelas dalam sekolahnya. Bila ia memakai
kacamata untung-rugi, ia tidak dapat menghayati rasa anaknya, maka memarahinya.
Bila rasa untung-rugi yang ada pada dirinya diketahui,
ia akan merasa salah dan menghayati rasa anaknya. Ternyata rasa anak sekolah
yang tidak naik kelas itu tidak enak, seakan-akan putus asa dan ingin bunuh
diri. Menghayati rasa anaknya itu, maka tentu saja orang segera berusaha
menghilangkan rasa putus asa dan tidak memarahinya.
Bila latihan ini senantiasa dijalankan dalam kehidupan
sehari-hari ukuran keempat akan berkembang semakin subur sehingga menimbulkan
perubahan sifat jiwa manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar